Lewati ke isi
Malam festival Kagari: perahu-perahu kayu berobor menyusuri sungai hitam hijau di antara rumah kayu berlentera, sisa kembang api memudar di langit.

Kagaribune

Festival dimulai Juli 2027

Wishlist

Switch 2 PC

Peluru kembang apiJurus yang kamu rakit sendiri

Di Kagaribune, kembang api adalah jurus. Kamu merakit peluru di bengkel Hibikino, lalu memilih sendiri warna bintang, waktu ledak, serta setinggi apa peluru itu pecah.

Peluru yang sudah jadi dibawa ke perahu festival. Di sungai itulah tiap resep diuji, tepat ketika badai sore turun dari hulu.

Bola peluru kertas cokelat berikat tali rami, separuh atasnya pecah menjadi semburan bintang merah dan emas.

Chrysanthemum

Pemecah awan

Bola bintangnya meledak rapat dan lebar, cukup untuk merobek perut Stormcalf yang sedang menunduk ke air dan memaksanya naik lagi sebelum obor berikutnya padam. Paling kuat bila pecah tepat di bawah awan. Terlalu rendah, bintangnya hanya menerangi atap tetangga.

Isi bintang merah dan emas, ledak tinggi, waktu cepat

Bola peluru kertas washi bersabuk nila; dari atasnya mengucur ekor emas yang menjuntai seperti dahan pohon dedalu.

Willow

Penahan hujan

Ekor emasnya jatuh pelan dan menggantung lama di udara, seperti atap kain yang dibentangkan di atas perahu oleh seseorang yang sangat sabar. Hujan Stormcalf tertahan di atasnya. Selama tirai itu turun, obor tetap menyala.

Isi bintang emas tua, ledak sedang, waktu lambat

Bola peluru berlapis kertas merah dengan lilitan tali hitam; di atasnya mekar bunga api merah muda bulat dengan pusaran angin putih.

Peony

Pemanggil angin

Ledakannya bulat bersih tanpa ekor. Dorongannya cukup kuat untuk membalik arah angin selama satu giliran, jadi awan yang menumpuk di haluan bisa kamu seret ke hilir bersama angin barat.

Isi bintang merah muda dan putih, ledak rendah, waktu sedang

Rombongan bengkelHibikino Fireworks, lewat tengah malam

Sanpei menunjuk ke depan sambil berteriak di ambang pintu kiri. Sumie bersandar pada galah bambu di buritan perahunya di tangga air. Tetsuo dan Wakaba membungkuk di atas meja kerja yang sama, bahu bersentuhan, menimbang isi sebuah peluru.
Bengkel Hibikino, dua minggu sebelum festival
  • Tetsuo Hibikino

    34 tahun, pemilik Hibikino Fireworks

    Mewarisi bengkel kembang api tertua di Sumikawa tepat ketika bengkel itu nyaris tutup, lengkap dengan atap bocor dan rak mesiu yang separuh kosong sejak ayahnya berhenti bekerja. Di depan orang banyak ia gagap; di depan meja mesiu ia tenang dan keras kepala.

  • Wakaba Kuraishi

    19 tahun, magang

    Menghitung takaran mesiu lebih cepat dan lebih tepat daripada gurunya, hal yang ia ingatkan kepada Tetsuo hampir di setiap hari kerja. Kacamata pelindungnya jarang turun dari dahi. Resep baru selalu ia namai sendiri tanpa minta izin kepada siapa pun.

    "Pak, yang Bapak pegang dari tadi itu tali sepatu, bukan sumbu."
  • Sumie Asanuma

    27 tahun, tukang perahu sungai

    Hafal kelima ruas sungai Sumikawa, termasuk arus licik di bawah jembatan kayu yang sudah menenggelamkan dua perahu festival dan satu sepeda milik Sanpei. Saat badai turun, Sumie yang memegang kemudi dan memutuskan kapan perahu harus mundur.

  • Sanpei Odagiri

    Empat puluhan, saingan (katanya)

    Pembuat kembang api dari seberang sungai dengan suara paling keras di Sumikawa. Ia mampir ke bengkel setiap ada kabar buruk, katanya untuk berbela sungkawa. Kumisnya selalu masuk duluan, orangnya menyusul tiga langkah kemudian. Tetsuo menyebutnya cuaca.

Pertarungan di atas perahuGiliran demi giliran, obor demi obor

Pertarungan berjalan bergiliran di geladak perahu festival yang menyusuri sungai, dengan rombongan di satu sisi dan badai yang turun perlahan dari hulu di sisi lain. Selama obor masih menyala, festival tetap berjalan; menjaga api itu adalah tugas rombongan.

Kota ini menyimpan tiga puluh resep peluru untuk ditemukan dan lima ruas sungai yang harus dijaga dari hulu ke hilir. Dua belas warganya punya cerita sendiri, dan semuanya menunggu langit Sumikawa penuh lagi.

  1. Urutan giliranRombongan dan Stormcalf bergantian bertindak; peluru yang lambat meledak bisa mendorong giliran lawan ke belakang antrean.
  2. Pengukur anginArah dan kekuatan angin bergeser setiap giliran. Peony bisa membaliknya; Willow paling awet saat angin tenang.
  3. Pilihan peluruHanya peluru yang kamu rakit di bengkel yang ikut naik ke perahu, tiga slot untuk tiap penembak.
  4. Tinggi ledakAtur ketinggian sebelum menembak. Terlalu rendah membakar layar sendiri, terlalu tinggi lewat di atas awan.
  5. HP oborObor haluan dan buritan adalah nyawa regu. Bila keduanya padam, perahu kembali ke dermaga dan malam itu diulang.
Stormcalf dewasa, awan badai abu-ungu seukuran rumah berbentuk anak sapi, kakinya hujan, petir kecil berkedip di perutnya.
Anak Stormcalf melompat riang di depan induknya.

Stormcalf

Badai sore yang bisa berjalan

Di dunia Kagaribune, badai sore punya kaki. Stormcalves turun dari bukit sebesar rumah, menunduk ke sungai, lalu meniup padam obor yang mereka temui.

Stormcalves hanyalah musim panas yang kebesaran untuk sungai sekecil Sumikawa. Anak-anaknya lebih penasaran daripada berbahaya dan sering mengikuti perahu dari jauh, seperti anjing yang belum yakin mau ikut pulang.

Kabar dari bengkelDari meja kerja Hibana Senko, Semarang

  • Trailer festival tayang

    Dua menit di sungai Sumikawa, dari meja kerja Tetsuo sampai perahu pertama yang dihantam badai sore. Musiknya direkam dengan taiko dan seruling bambu, ditemani paduan suara kecil dari kantor kami sendiri.

  • Suara peluru direkam di pesisir utara

    Tim suara kami menghabiskan tiga malam di pantai dekat Semarang dengan mikrofon terbungkus plastik agar tidak basah oleh embun laut. Desis sumbu, dentum ledakan, serta gemeretak bintang direkam dari atas perahu maupun dari darat.

  • Resep terakhir lolos uji

    Resep ketiga puluh, Willow ganda, akhirnya berhenti membakar meja uji setelah empat minggu percobaan dan sepasang alis yang harus tumbuh lagi. Seperti biasa Wakaba yang memberi nama; Tetsuo baru tahu dari papan tulis keesokan harinya.

    Halaman belakang bengkel siang hari: puluhan bola peluru kertas dijemur di rak bambu, seekor kucing tidur di atas peti.
  • Warga Sumikawa selesai ditulis

    Ada pemilik kedai yang menolak lampu listrik dan seorang kakek yang merakit perahu dari daun pintu lemari. Teks hadir dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Jepang; suara dalam Jepang dan Inggris.

    Sumikawa siang hari: warga menggantung lentera kertas melintang di atas sungai dari jendela lantai dua.

Trailer festival

Buka di YouTube