Di Kagaribune, kembang api adalah jurus. Kamu merakit peluru di bengkel Hibikino, lalu memilih sendiri warna bintang, waktu ledak, serta setinggi apa peluru itu pecah.
Peluru yang sudah jadi dibawa ke perahu festival. Di sungai itulah tiap resep diuji, tepat ketika badai sore turun dari hulu.
Chrysanthemum
Chrysanthemum
Pemecah awan
Bola bintangnya meledak rapat dan lebar, cukup untuk merobek perut Stormcalf yang sedang menunduk ke air dan memaksanya naik lagi sebelum obor berikutnya padam. Paling kuat bila pecah tepat di bawah awan. Terlalu rendah, bintangnya hanya menerangi atap tetangga.
Isi bintang merah dan emas, ledak tinggi, waktu cepat
Willow
Willow
Penahan hujan
Ekor emasnya jatuh pelan dan menggantung lama di udara, seperti atap kain yang dibentangkan di atas perahu oleh seseorang yang sangat sabar. Hujan Stormcalf tertahan di atasnya. Selama tirai itu turun, obor tetap menyala.
Isi bintang emas tua, ledak sedang, waktu lambat
Peony
Peony
Pemanggil angin
Ledakannya bulat bersih tanpa ekor. Dorongannya cukup kuat untuk membalik arah angin selama satu giliran, jadi awan yang menumpuk di haluan bisa kamu seret ke hilir bersama angin barat.
Isi bintang merah muda dan putih, ledak rendah, waktu sedang
Rombongan
Rombongan bengkelHibikino Fireworks, lewat tengah malam
Bengkel Hibikino, dua minggu sebelum festival
Tetsuo Hibikino
34 tahun, pemilik Hibikino Fireworks
Mewarisi bengkel kembang api tertua di Sumikawa tepat ketika bengkel itu nyaris tutup, lengkap dengan atap bocor dan rak mesiu yang separuh kosong sejak ayahnya berhenti bekerja. Di depan orang banyak ia gagap; di depan meja mesiu ia tenang dan keras kepala.
Wakaba Kuraishi
19 tahun, magang
Menghitung takaran mesiu lebih cepat dan lebih tepat daripada gurunya, hal yang ia ingatkan kepada Tetsuo hampir di setiap hari kerja. Kacamata pelindungnya jarang turun dari dahi. Resep baru selalu ia namai sendiri tanpa minta izin kepada siapa pun.
"Pak, yang Bapak pegang dari tadi itu tali sepatu, bukan sumbu."
Sumie Asanuma
27 tahun, tukang perahu sungai
Hafal kelima ruas sungai Sumikawa, termasuk arus licik di bawah jembatan kayu yang sudah menenggelamkan dua perahu festival dan satu sepeda milik Sanpei. Saat badai turun, Sumie yang memegang kemudi dan memutuskan kapan perahu harus mundur.
Sanpei Odagiri
Empat puluhan, saingan (katanya)
Pembuat kembang api dari seberang sungai dengan suara paling keras di Sumikawa. Ia mampir ke bengkel setiap ada kabar buruk, katanya untuk berbela sungkawa. Kumisnya selalu masuk duluan, orangnya menyusul tiga langkah kemudian. Tetsuo menyebutnya cuaca.
Pertarungan
Pertarungan di atas perahuGiliran demi giliran, obor demi obor
Pertarungan berjalan bergiliran di geladak perahu festival yang menyusuri sungai, dengan rombongan di satu sisi dan badai yang turun perlahan dari hulu di sisi lain. Selama obor masih menyala, festival tetap berjalan; menjaga api itu adalah tugas rombongan.
Kota ini menyimpan tiga puluh resep peluru untuk ditemukan dan lima ruas sungai yang harus dijaga dari hulu ke hilir. Dua belas warganya punya cerita sendiri, dan semuanya menunggu langit Sumikawa penuh lagi.
Angin barat laut 3
Tinggi
Haluan
Buritan
Chrysanthemum
Willow
Peony
12345
Urutan giliranRombongan dan Stormcalf bergantian bertindak; peluru yang lambat meledak bisa mendorong giliran lawan ke belakang antrean.
Pengukur anginArah dan kekuatan angin bergeser setiap giliran. Peony bisa membaliknya; Willow paling awet saat angin tenang.
Pilihan peluruHanya peluru yang kamu rakit di bengkel yang ikut naik ke perahu, tiga slot untuk tiap penembak.
Tinggi ledakAtur ketinggian sebelum menembak. Terlalu rendah membakar layar sendiri, terlalu tinggi lewat di atas awan.
HP oborObor haluan dan buritan adalah nyawa regu. Bila keduanya padam, perahu kembali ke dermaga dan malam itu diulang.
Stormcalf
Stormcalf
Badai sore yang bisa berjalan
Di dunia Kagaribune, badai sore punya kaki. Stormcalves turun dari bukit sebesar rumah, menunduk ke sungai, lalu meniup padam obor yang mereka temui.
Stormcalves hanyalah musim panas yang kebesaran untuk sungai sekecil Sumikawa. Anak-anaknya lebih penasaran daripada berbahaya dan sering mengikuti perahu dari jauh, seperti anjing yang belum yakin mau ikut pulang.
Kabar
Kabar dari bengkelDari meja kerja Hibana Senko, Semarang
Trailer festival tayang
Dua menit di sungai Sumikawa, dari meja kerja Tetsuo sampai perahu pertama yang dihantam badai sore. Musiknya direkam dengan taiko dan seruling bambu, ditemani paduan suara kecil dari kantor kami sendiri.
Suara peluru direkam di pesisir utara
Tim suara kami menghabiskan tiga malam di pantai dekat Semarang dengan mikrofon terbungkus plastik agar tidak basah oleh embun laut. Desis sumbu, dentum ledakan, serta gemeretak bintang direkam dari atas perahu maupun dari darat.
Resep terakhir lolos uji
Resep ketiga puluh, Willow ganda, akhirnya berhenti membakar meja uji setelah empat minggu percobaan dan sepasang alis yang harus tumbuh lagi. Seperti biasa Wakaba yang memberi nama; Tetsuo baru tahu dari papan tulis keesokan harinya.
Warga Sumikawa selesai ditulis
Ada pemilik kedai yang menolak lampu listrik dan seorang kakek yang merakit perahu dari daun pintu lemari. Teks hadir dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Jepang; suara dalam Jepang dan Inggris.